PELETAKAN DASAR-DASAR PERADABAN ISLAM PADA MASA RASULULLAH

by




PELETAKAN DASAR-DASAR PERADABAN ISLAM PADA MASA RASULULLAH


A. Pendahuluan.


            Seorang manusia yang tiada tanding dalam berbagai hal yang kehadirannya dinanti-nanti semua golongan, agama, ras, maupun budaya. Yang membuka awal dari pencerahan, yang membawa dari zaman kegelapan kezaman yang terang benerang ini, yang membawa dari kebodohan ke zaman yang dipenuhi dengan ilmu pengetahuan, tiada lain dia adalah nabi bagi kita sendiri, bagi agama islam, Nabi Muhammad SAW. Orang yang telah memberi contoh untuk selalu berbuat baik dan senentiasa membantu orang lain.beliau lahir ditengah-tengah hiruk piruknya kehidupan yang gelap ditengah kerumunan arab jahiliyyah yang pada masanya itu adalah peradaban yang paling gelap. Dan beliaulah yang telah menyalakan api pelita kebenaran dimana telah mendamaikan suku-suku yang bermusuhan, membebaskan para budak, menyantuni anak-anak yatim, dan wanita-wanita janda.
            Muhammad dilahirkan di tengah-tengah masyarakat terbelakang yang senang dengan kekerasan dan pertempuran dan menjelang usianya yang ke-40, ia sering menyendiri ke Gua Hira’ sebuah gua bukit sekitar 6 km sebelah timur kota Mekkah, yang kemudian dikenali sebagai Jabal An Nur. Ia bisa berhari-hari bertafakur dan beribadah disana dan sikapnya itu dianggap sangat bertentangan dengan kebudayaan Arab pada zaman tersebut dan di sinilah ia sering berpikir dengan mendalam, memohon kepada Allah supaya memusnahkan kekafiran dan kebodohan.
            Tentulah kita sebagai seorang muslim tahu siapa beliau, bahkan Michael H. Heart dalam bukunya The 100, menetapkan Muhammad sebagai tokoh paling berpengaruh sepanjang sejarah manusia. Menurut Hart, Muhammad adalah satu-satunya orang yang berhasil meraih keberhasilan luar biasa baik dalam hal agama maupun hal duniawi. Dia memimpin bangsa yang awalnya terbelakang dan terpecah belah, menjadi bangsa maju yang bahkan sanggup mengalahkan pasukan romawi di medan pertempuran. Dalam makalah inipun akan saya sebarluaskan tentang adanya keajaiban-keajaiban itu untuk bisa membantu para pembaca untuk memperluas wawasan tersebut lebih jauh dan dalam.

B. Bangsa Arab Sebelum Islam

            Bangsa arab adalah suku asli yang yang menghuni jazirah arab yang terletak di semenanjung barat daya abenua asia. Sebagian besar permukaannya adlah gurun yang amat panas di bagian jazirah arab.  kedatangan agama Islam merupakan sebuah kawasan perlintasan perdagangan   yang menjadikan satu antara  kawasanasia di timur. Kebanyakan orangarab merupakan penyembah berhala dan ada sebagian yang merupakan pengikut agama-agama.Makkah adalah tempat yang suci bagi bangsa Arab ketika itu, karena di sana terdapat berhala-berhala agama mereka, telagazam-zam, dan yang terpenting adalahka'bah. Masyarakat ini disebut pulajahiliyah atau dalam artian lain bodoh. Bodoh disini bukan dalam intelegensianya namun dalam pemikiran moral. Wargaqurais yang terkenal dengan masyarakat yang suka berpuisi. Mereka menjadikan puisi sebagai salah satu hiburan disaat berkumpul di tempat-tempat ramai.
            Bangsa arab merupakan rumpun bangsa samit, Bangsasemit pada awalnya membangun peradaban, perlahan-lahan mereka kehilangan dominasi politik mereka disebabkan serangan dari bangsa nomad Semit dan bangsa non Semit. Bangsa Aram, Akkadia, Asiria, dan Minean berbicara dalam bahasa yang hampir sama dengan bahasa Semit. Akhirnya, bangsa Semit kehilangan kekuasaannya tepat pada serangan Persia dan kedatangan bangsa Yunani pada 330 SM. Dimana bangsa arab sendiri membagi menjadi dua kelompok, yaitu Arab Baidah dan Arab Baqiyah. Arab Baidah adalah bangsa arab yang telah ada jauh sebelum islam sendiri datang di bumi arab. Arab Baqiyah terbagi atas Arab Aribah dan Arab Musta' ribah. Arab Aribah dinamakan pula Qataniyyah.
            Dari segi pemukimannya, bangsa arab dapat dibedakan atas ahl-albadawi dan ahl- al-hadlar. Kaum badhawi adalah penduduk padang pasir, dan mereka hidup secara nomaden dan tidak memiliki tempat tinggal yang tetap, sehingga para sejarawan sendiri tidak bisa memastikan dari mana asal muasal suku ini.Sedangkan ahl al-hadlar adalah penduduk yang sudah menetap di jazirah arab sejak zaman dulu, dan mereka bertempat tinggal dikota-kota dan daerah-daerah pemukiman yang subur. Mereka hidup secara rumpun dan berkegiatan jual-beli, bercocok tanam dan industri.
            Dalam strukturnya, masyarakat arab terdapat kabilah sebagai intinya. Ia adalah organisasi keluarga besar yang biasanya berhubungan antara anggota-anggotanya terikat oleh pertalian darah (nasab). Kan tetapi adkalanya hubungan seseorang dengan kabilahnya disebabkan karena ikatn pernikahan, suaka politik atau sumpah setia.sebuah kabilah akan dipimpin oleh seorang kepala yang disebut syaikh al-kabilah yang bisanya dipilih dari salah seorang anggotayang usianya paling tua.
            Masa sebelum datangnya islam adalah masa-masa jahiliyah. Zaman ini terbagi menjadi dua periode, yaitu jahiliyah pertama dan jahiliiyah kedua. Jahiliyah pertama meliputi masa yang sangat panjang, tetapi tidak banyak yang diketahui hal ihwalnya karena sudah banyak yang lenyap. Adapun jahiliyah kedua sejarahnya dapat diketahui agak jelas, zaman ini berlangsung kira-kira 150 tahun sebelum islam lahir. Kata jahiliyah sendiri berasal dari kata jahl, tapi jahiliyah disini bukan berarti jahl lawan dari ilm, melainkan hilm.
            Sebagian bangsa arab jahiliyah adalah penyembah berhala, setiap kabilah memiliki patung sendiri, sehingga tidak kurang dari 360 patung bertengger di ka' bah yang suci itu. Dan ada empat patung yang terkenal, yaitu Lata, Uzza, Manah, dan Hubal. Sebenarnya mereka percaya Allah sebagai pencipta dan penguasa alam semesta, tetapi mereka memungkiri tentang hari hidup sesudah mati.
            Saat itu memang hanya satu di antara dua orang ahlul kitab yg berpegang dgn kitab yg sudah dirubah dan/atau dihapus atau dgn agama yg punah baik bangsa Arab atau lainnya. Sebagian tdk diketahui dan sebagian yg lain sudah ditinggalkan. Akibat seorang yg umi hanya bisa bersemangat beribadah namun dgn apa yg ia anggap baik dan disangka memberi manfaat baik berupa bintang berhala kubur benda keramat atau yg lainnya
            Manusia saat itu benar-benar dlm kebodohan yg sangat akan ucapan-ucapan yg mereka sangka baik padahal bukan serta amalan yg disangka baik padahal rusak. Paling mahir mereka adl yg mendapat ilmu dari warisan para Nabi terdahulu namun telah samar bagi mereka antara haq dan batil. Atau yg sibuk dgn sedikit amalan meski kebanyakann mengamalkan bid’ah yg dibuat-buat. Walhasil kebatilan berlipat-lipat kali dari kebenarannya. Mereka juga mempercayai berita-berita ahli nujum peramal dan dukun serta menggantungkan nasib melalui burung-burung. Ketika ingin melekukan sesuatu mereka mengusir burung. Jika terbang ke arah kanan berarti terus jika ke arah kiri berarti harus diurungkan. Selain itu mereka juga pesimis dgn bulan-bulan tertentu. Misal krn pesimis dgn bulan safar mereka kemudian merubah aturan haji sehingga tdk mengijinkan orang luar Makkah utk haji kecuali dgn memakai pakaian dari mereka. Jika tdk mendapatkan mk melakukan thawaf dgn telanjang.

                    Muhammad SAW Sebelum Kenabian

            Rasulullah SAW lahir dari kalangan bangsawan Quraisy. Ayahnya bernama abdullah ibn abd al-muthalib dan ibunya bernama Aminah binti Wahab. Garis nasab ayah dan ibunya bertemu pada kilab ibn Murrah. Muhammad SAW dilahirkan di kota Makkah pada Senin pagi di hari ke-sembilan bulan Rabiul Awal tanggal 20 atau 22 April 571 M, kira-kira 50 atau 55 hari setelah peristiwa kehancuran pasukan bergajah yang sedang bergerak menuju Baitullah di kota Makkah. Kakek beliaulah yang memberikan nama Muhammad SAW. Beliau adalah bagian dari suku Quraisy yang dihormati. Namun demikian, keluarga beliau sangatlah miskin. Ayahanda beliau, Abdullah, telah wafat sebelum beliau dilahirkan. Sesuai dengan tradisi Arab, sekelompok perempuan dusun datang ke kota Makkah untuk menjual jasa menyusui bayi. Kebanyakan dari mereka mencari bayi dari keluarga kaya. Tak satupun dari mereka peduli untuk menyusui bayi Muhammad SAW lantaran ia yatim dan dari keluarga yang sangat miskin. Akhirnya, Halimah bersedia menjadi ibu-susunya dengan harapan keluarganya dapat membina hubungan baik dengan suku Quraisy. Muhammad SAW tinggal bersama ibundanya hingga mencapai usia 6 tahun. Aminah tak memiliki apapun untuk menghidupi diri dan anaknya. Iapun pulang ke kota Madinah, tempat dimana keluarganya tinggal agar dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka ala kadarnya. Di Madinah, Aminah jatuh sakit. Tak berapa lama berselang iapun wafat dan dimakamkan di sebuah dusun bernama Abwa.
            Jadilah Si kecil Muhammad SAW yatim-piatu. Ia pun sedih, menyendiri dan tak ada gairah bermain dengan teman-temannya. Selera makannya pun hilang dan kian hari kian bertambah lemah. Para sanak-saudaranya mengantarkannya kepada kakeknya, Abdul Muththalib. Sang kakek meninggal dunia di usia 110 Tahun. Sekali lagi Muhammad SAW kecil kembali tanpa daya di usianya yang ke-10. Pengasuhan dirinya dilanjutkan oleh sang Paman Abu Thalib di rumahnya.
            Abu Thalib dikenal sebagai orang baik dan salah seorang pemuka suku Quraisy. Namun ia pun sangat miskin sehingga tak mampu menanggung beban keluarganya yang besar. Muhammad SAW terpaksa mencari pekerjaan sebagai buruh; di usianya yang baru sepuluh tahun; agar dapat menghidupi dirinya sendiri. Mulailah ia menjadi penggembala ternak milik orang lain, di daerah gurun Makkah yang amat sangat panas. Ia makan dari tetumbuhan liar yang terdapat di gurun dan meminum susu dari kambing atau domba yang di gembalakannya. Dengan bertelanjang kaki dan mengenakan pakaian yang tak cukup untuk sekedar menutupi tubuhnya, ia habiskan waktu seharian di gurun pasir. Biasanya ia kembali ke rumah sang paman di malam hari untuk sejenak bermalam disana.
            Di gurun pasir itulah ia menghayati bentuk alamiah dari kehidupan. Kesulitan hidup, kesendirian, dan rasa tanggung-jawab menjadikannya lebih matang daripada usianya. Sang paman yang pedagang terkesan dengan kecerdasan dan kematangan keponakannya. Maka ketika Muhammad SAW berusia 12 tahun, Abu Thalib mengajaknya dalam perjalanan dagang ke Syria.
            Ketika kafilah dagang mereka sampai di kota Basra di wilayah Syria Besar, seorang pendeta terkenal di masa itu, Buhairah, menghampiri Abu Thalib dan mengatakan, "Aku mengenali anak muda ini, sebagai sosok yang kelak akan dinobatkan sebagai rahmat bagi semesta alam. Hal ini tetulis jelas dalam kitab-kitab kami." Buhairah selanjutnya menyarankan kepada Abu Thalib, “Lindungi anak muda ini dari orang-orang Yahudi, lebih baik bawa ia kembali ke Makkah.”Abu Thalib menuruti saran sang pendeta tersebut.
            Kala itu belum ada sistem kepolisian maupun peradilan. Masing-masing suku menyelesaikan persoalan diantara mereka menurut cara mereka sendiri. Jika suku yang lemah diperlakukan sewenang-wenang oleh seorang dari suku yang berkuasa, suku yang lemah hanya bisa terdiam seribu-basa. Sebagai contoh, seorang lelaki kaya mengambil paksa anak perempuan pengunjung Makkah yang miskin, maka sang ayah tidak mempunyai jalan keluar untuk mendapatkan kembali anak gadisnya.
            Remaja Muhammad SAW tidak senang dengan kekacauan tatanan demikian. Dikumpulkannya beberapa pemuda dan dibentuknya satuan sukarelawan untuk melawan kejahatan. Mereka memberi dukungan kepada suku-suku yang miskin dan lemah. Kelompok ini sangat berhasil dalam mencapai berbagai tujuan/sasarannya. Hal ini bukanlah sebuah langkah biasa. Langkah ini dengan cepat membawa perubahan total pada tatanan peradilan di Makkah, dan penghargaan masyarakat pun tertuju kepada remaja Muhammad SAW.
            Kejujuran, perilaku sopan-santun, kerja keras, dan kecerdasan pemuda Muhammad SAW merebut hati setiap orang. Hampir seluruh orang Quraisy adalah pedagang. Khadijah adalah seorang janda kaya. Ia meminta Muhammad SAW untuk memasarkan barang-barang dagangannya ke Syria.
            Seorang pendeta yang lain berkata kepada Muhammad SAW bahwa, kelak ia akan menghapuskan penyembahan berhala dan menyerukan agama yang benar. Muhammad SAW kembali ke Makkah dengan membawa laba penjualan yang melimpah. Khadijah RA pun mengutus lagi misi perdagangan untuk kedua kalinya, dan sekali lagi misi ini menghasilkan laba yang menggembirakan. Maisarah, pelayan Khadijah RA, menyertai Muhammad SAW dalam dua perjalan dagang itu. Ia menuturkan secara rinci berbagai kualitas yang dimiliki oleh Muhammad SAW kepada Khadijah RA. Muhammad SAW adalah juga seorang pemuda yang menarik. Ketika itu Khadijah RA telah berusia 40 tahun, ia sangat tertarik dengan pribadi Muhammad SAW yang baru berusia 25 tahun, dan berkeinginan menikah dengannya. Maka, iapun menitip pesan kepada Maisarah untuk Muhammad SAW. Namun setelah pesan disampaikan, Maisarah kembali kepadanya tanpa membawa jawaban.
Maka ia meminta bantuan teman dekatnya, Nafisah untuk menyampaikan pesan yang sama kepada Muhammad SAW. Nafisah pun menyampaikan maksud hati Khadijah dan memberikan motivasi kepada Muhammad SAW agar bersedia menikahi Khadijah RA. Akhirnya gayung bersambut, Muhammad menerima lamaran Khadijah dan merekapun menikah. Setelah menikah, Muhammad SAW mengambil dua hal penting.
Pertama, Muhammad SAW hendak menolong pamannya, Abu Thalib, yang miskin. Maka diambilnya anak sang paman, yakni Ali bin Abi Thalib RA, untuk diasuh dan dibesarkannya.
Kedua, Khadijah RA menghadiahinya seorang budak yang ketika itu masih beragama nasrani dan berasal dari Syria, yaitu Zaid bin Harits RA. Muhammad SAW memerdekakannya. Zaid RA pun sangat mengagumi kepribadian Muhammad SAW, maka ia menolak kembali kepada orangtuanya dan rememilih menghabiskan sisa umurnya menemani Muhammad SAW.
            Ketika Muhammad SAW berusia 35 tahun, terjadi dua bencana di Makkah. Pertama, terjadi kebakaran pada Ka’bah. Kedua, Banjir akibat hujan meruntuhkan sebagian dari Ka’bah. Pembangunan kembali Ka’bah dilakukan oleh suku Quraisy. Perselisihan tajam terjadi diantara sepuluh kelompok dalam suku Quraisy, ini terjadi karena masing-masing kelompok menginginkan kelompoknyalah yang mendapat kehormatan meletakkan kembali Hajar Aswad ke tempatnya semula di dinding Ka’bah.
            Pertumpahan darah nyaris terjadi sebagai pilihan penyelesaian perselisihan ini. Namun, akhirnya mereka sampai pada kesepakatan bulat untuk menyerahkan urusan ini kepada Muhammad SAW, mengingat bahwa diantara seluruh penduduk Makkah, beliau dikenal sebagai sosok yang paling jujur dan condong pada berlaku adil. Berbekal kecerdasan akal budi dan pandangan yang jauh ke depan, Muhammad SAW dapat dengan singkat menyajikan jalan keluar atas persoalan yang diperselisihkan.
Dimintanya selembar kain dan dibentangkannya kain ini diatas tanah. Kemudian, diletakkanlah Hajar Aswad di atas kain ini, dan masing-masing pimpinan kelompok secara bersama memegang lembaran kain dan mengangkatnya ke dekat dinding Ka’bah. Kemudian Muhammad SAW dengan tangannya sendiri meletakkan kembali Hajar Aswad pada tempatnya semula di dinding Ka’bah.
           
                    Diangkat Menjadi Rasul

            pada malam senin 17 Ramadhan tahun 13 sebelum hijriyah. Muhammad SAW memiliki kebiasaan merenung di sebuah goa yang disebut goa Hira’. Di usianya yang ke-40, suatu hal luarbiasa terjadi ketika beliau sedang berada di goa ini. Malaikat Jibril AS hadir disini dan meminta Muhammad SAW untuk membaca (dalam bahasa Arab; Iqra’! = bacalah!).  Wahyu ke-dua yang diturunkan adalah, tujuh ayat pertama dari surat Al-Muddatstsir. Setiap ayatnya begitu singkat namun sangat bertekanan dan bermakna sangat dalam.  Wahyu kedua inilah yang menandai penobatan Nabi Muhammad SAW sebagai rasulullah.




E. Mendakwahkan Islam dan Reaksi Quraisy

            Rasulullah melaksanakan tugas risalahnya selama 13 atun di makkah dan sepuluh tahun di Madinah. Dakwah periode Makkah ditempuh melalui tiga tahap. Tahap pertama adalah secara diam-diam, yang kedua adalah dakwah semi terbuka. Dalam tahap ini rasulullah menyeru kepada keluarganya dalam lingkup yang lebih luas. Yang menjadi seruannya adalah bani hasyim. Ketika gerakan rasulullah makin meluas, jumlah pengikutnya bertambah danseruannya semakin tegas dan lantang, bahkan secara terang-teranga. Orang-orang quraisy terkejut dan marah, mereka menentang dakwah rasulullah dandengan berbagai macam carauntuk menghalanginya. Menurut syalabi ada lima faktor yang mempengaruhi orang0orang quraisy menentang dakwah rasulullah, yaitu karena persaingan pengaruh kekuasaan, persamaan derajat, takut dibangkitkan setelah mati, taklid kepada nenek moyang, dan perniagaan patung.
            Ketika kesedihan yang melanda rasulullah atas pemboikotan, abu thalib, paman beliau, dan khadijah istri beliau meninggal dunia. Oleh karena itu, tahun itu dikenal dengan tahun'am al-huzn, tahun kesedihan. Akibatnya banyak orang-orang quraisy menentang dan menghina rasulullah, bahkan penganiyayaan. Pada saat-saat menghadapi ujian berat, rasulullah diperintahkan untuk melakukan perjalanan malam dari masjid al-haram di makkah ke bait al-maqdis di palestina yang kita kenal dengan istilah isra dan mi' raj yang terjadi pada malam 27 rajab tahun 11 sesudah kenabian.

F. Orang-orang Yastrib Masuk Islam

            Dua ribu orang lelaki dan perempuan dari suku Quraisy memeluk Islam dan berbaiat kepada Rasulullah SAW di bukit Shafa. Banyak suku-suku bangsa Arab yang lainnya pun, yang sebelumnya telah yakin atas kenabian Muhammad SAW, namun selama ini enggan menyatakan lantaran sepak-terjang kaum Quraisy, kini pun bersama-sama dalam jumlah besar memeluk Islam. Kota Yatsrib berpenduduk asli Suku Aus dan Suku Khazraj. Di samping mereka, orang-orang Yahudi juga menentap di sana. Meski bermuamalah dengan penduduk Suku Aus dan Khazraj, orang-orang Yahudi tidak bisa menutupi sikap permusuhan mereka. Bahkan, orang-orang Yahudi ini menjanjikan bahwa akan datang seorang nabi yang akan memimpin mereka memerangi Suku Aus dan Khazraj sebagaimana memerangi kaum ‘Ad dan Tsamud.
            Keyakinan akan datangnya nabi tersebut begitu melekat di penduduk Yatsrib. Hingga suatu ketika di musim haji Rasulullah saw. berdakwah dengan mendatangi kabilah-kabilah yang tengah melaksanakan haji di Baitullah. Rasulullah saw. berjumpa dengan rombongan dari Suku Khazraj. Beliau menawarkan Islam kepada mereka. Orang-orang Khazraj saling berkata kepada satu sama lain. Setahun setelah perjumpaan pertama itu, 12 orang penduduk Yatsrib yang telah beriman pergi ke Mekkah untuk melaksanakan haji dan menemui Rasulullah saw. Mereka bertemu di Aqabah. Di sana mereka membai’at (bersumpah setia) kepada Rasulullah saw. Isi baiat mereka adalah seperti baiat kaum wanita. Isi baiat wanita adalah, pertama, tidak mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Allah; kedua, tidak mencuri; ketiga, tidak akan berzina; keempat, tidak akan membunuh anak-anak mereka sendiri, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka, dan tidak berdurhakai Rasulullah dalam urusan yang baik.
            Pada musim haji berikutnya Mus’ab bin Umair membawa rombongan muslimin Yatsrib yang terdiri atas 73 pria dan 2 wanita menuju Mekkah. Mereka membuat janji bertemu dengan Rasulullah saw. pada pertengahan hari tasyrik di Aqabah. Setelah lewat sepertiga malam di malam waktu yang dijanjikan, rombongan itu menjumpai Rasulullah saw. secara diam-diam.

G. Hijrah ke Yastrib

            Sebelum Rasulullah hijrah, Madinah bernama Yastrib. Sesudah Beliau Hijrah disebut Madiyatun Nabi atau Kota Nabi. Kota ini tempat lalu lintas perdagangan antara Mekkah dan Syria. Pada waktu itu Kota Yastrib.
            Hijrah pertama ini diikuti hanya oleh dua puluh orang. Di dalam rombongan ini terdapat Ruqayyah binti Muhammad (putri Rasulullah saw.) dan suaminya Utsman bin Affan. Mereka berlayar secara diam-diam menuju Habasyah dengan menggunakan kapal dagang. Kaum musyrik Mekah kemudian mengirim pasukan untuk mengejar mereka. Namun, kaum muslim telah berlayar setibanya pasukan di tepi laut. Peristiwa ini terjadi di bulan Rajab, Sya’ban dan Ramadhan.

Hijrah ke Habasyah ini dilakukan kaum muslim karena semakin meningkatnya intimidasi kaum Qurisy pada mereka. Setelah dua bulan tinggal di Habasyah, mereka kembali ke Mekah karena mengira intimidasi kaum Quraisy sudah jauh berkurang.
            Setiba Rasulullah SAW di Madinah, onta beliau Quswa duduk di lahan terbuka di dekat rumah Abu Ayyub Ansari . Maka beliau SAW pun menetap di tempat itu sampai terselesaikannya pendirian Masjid Nabawi dan sebuah tempat berteduh untuk beliau. Seluruh sahabat bersama-sama Nabi SAW juga secara langsung turun tangan dalam pembangunan Masjid Nabawi, sebagaimana juga mereka melakukan bersama-sama dalam pembangunan Masjid Quba’.
            Beberapa hari kemudian, istri Nabi SAW : Saudah (RA); dua putri beliau Fatimah (RA) and Ummu Kulsum (RA), Usamah bin Zaid (RA), ‘Aisyah (RA) dan Ummu Aiman (RA) juga menyusul hijrah ke Madinah dibawah kawalan Abdullah bin Abu Bakar (RA). Adapun putri beliau seorang lagi, Zainab (RA), baru diijinkan hijrah ke Madinah setelah terjadi peperangan Badar.

H. Haji Wada' dan Akhir Hayat Rasulullah

            Tahun kesebelas Hijriyah, haji pertama Nabi dan kaum Muslimin tanpa ada seorang musrik pun yang ikut didalamnya, untuk pertama kalinya pula, lebih dari 10.000 orang berkumpul di Madinah dan sekitarnya, menyertai Nabi melakukan perjalanan ke Makkah, dan .. sekaligus inilah haji terakhir yang dilakukan oleh Nabi. Rombongan haji meninggalkan Madinah tanggal 25 Dzulqaidah , Nabi disertai semua isterinya, menginap satu malam di Dzi Al-Hulaifah, kemudian melakukan Ihram sepanjang Subuh, dan mulai bergerak... seluruh padang terisi gema suara mereka yang mengucapkan,Labbaik, Allahumma labaik... Labbaik, la syarika laka, ! Aku datang memenuhi panggilanmu, Allahumma, ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu...Labbaik, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Segala puji, kenikmatan, dan kemaharajaan, hanya bagi-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu... Labbaik, aku datang memenuhi panggilan-Mu... Langit, hingga hari itu, belum pernah menyaksikan pemandangan di muka bumi seperti yang ada pada saat itu. Lebih dari 100.000 orang, laki-laki dan perempuan “ dibawah sengatan Matahari yang amat terik dan di padang pasir yang sebelumnya tak pernah dikenal orang “ bergerak menuju satu arah.
            Kira-kira tiga bulan sesudah menunaikan ibadah haji yang penghabisan itu, rasulullah menderita demambeberapa hari. Beliau menunjuk abu bakar untuk menggantikan beliau mengimami shalat jama'ah. Pada hari senin 12 rabiul awal 11 H bertepatan dengan 8 juni 632 M rasulullah menghembuskan nafas terakhirnya untuk menghadap Allah SWT dalam usia 63 tahun. Tidak ada benda berarti yang ditinggalkan rasulullahuntuk keluarganya, selain pesan-pesan amat berharga sepanjang sejarah. Pemimpin terbesar dunia sepanjang sejarah telah menyelesaikan tugas-tugasnya.